Kamis, 01 Desember 2011

Maksud Iblis dan Setan Diciptakan


by Lucky Arif on 03:49 AM, 08-Jan-11

Mengapa Allah menciptakan iblis dan setan ? Jangankan manusia, iblis pun menjadikan pertanyaan semacam ini menjadi sarana untuk menyesatkan manusia, anda dapat baca kembali keberatan-keberatan iblis yang disampaikannya kepada malaikat, sebagaimana diilustrasikan oleh Asy-Syahrastani.

Ibnu Al-Qayyim, pakar hukum Islam bermazhab Hambali dalam bukunya, "Syifa' Al-Ghali" menulis bahwa hikmah yang dapat ditarik dari penciptaan iblis dan setan tidak dapat diuraikan seluruhnya, kecuali oleh Allah Swt. Sebagian dari hikmah tersebut dalam pandangan pakar ini antara lain adalah :

Dengan adanya setan dan iblis, maka manusia berjuang menghadapi musuh Allah dan musuh manusia itu, dan dengan demikian ia dapat meraih kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah. Dengan adanya iblis dan setan, manusia memanjatkan permohonan perlindungan kepada Allah, sehingga sekian keburukan dapat ditampik dan banyak kemaslahatan dapat dipetik. Dengan adanya iblis dan setan serta sanksi yang diperolehnya, bertambah rasa takut dan pengabdian malaikat dan orang-orang beriman kepada Allah. Mereka takut jangan sampai mendapat murka, sebagaimana iblis. Dan ini pada gilirannya menambah pula pengabdian mereka. Disamping itu, peristiwa yang dialami iblis itu dapat menjadi pelajaran berharga bagi setiap hamba Allah. Masih banyak yang diuraikan oleh ulama ini, tetapi yang terpenting di antaranya adalah, bahwa kehadiran iblis dan setan merupakan salah satu kodrat Ilahi dan bahan ujian bagi manusia.

Allah SWT menciptakan banyak makhluk, antara lain menciptakan makhluk yang hanya dapat taat kepada-Nya, yakni malaikat, ada juga yang tidak dapat taat atau tidak juga durhaka, seperti benda mati, tumbuhan dan binatang. Jenis ketiga adalah yang berpotensi taat atau durhaka, itulah manusia dan jin. Tidak nampak kesempurnaan kekuasaan kodrat Ilahi jika jenis ketiga ini tidak tercipta. Sebagian dari jenis ketiga inilah yang menjadi setan. Jawaban ini, berpangkal pada pandangan tentang kekuasaan dan kesempurnaan Allah SWT dalam menciptakan aneka makhluk.

Adapun kehadiran iblis dan setan sebagai ujian, maka penjelasan adalah sebagai berikut : Seperti di maklumi makhluk hidup jelas lebih mulia daripada makhluk tak bernyawa yang bertanggung jawab dari makhluk hidup seperti jin dan manusia lebih utama dari yang tidak bertanggung jawab, seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Yang mampu mempertanggung jawabkan setiap tindakan lebih tinggi kedudukannya dan lebih mulia disisi Allah dari makhluk hidup yang gagal mempertanggung jawabkan tindakan-tindakannya. Nah dari sini kemudian muncul pertanyaan : Bagaimana mengetahui yang gagal dan yang berhasil ? Tentulah melalui cobaan dan ujian ! Oleh sebab itu kehidupan manusia dan jin sebagai makhluk bertanggung jawab tidak luput dari ujian dan cobaan, ini merupakan suatu keniscayaan.
"(Allah)Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kami, siapa diantara kami yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" .(QS. Al-Mulk 67:2)

"Apakah kami mengira, bahwa kami akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang sabar".(QS. Al-Imran 3:142)

Salah satu cara Allah melakukan ujian adalah dengan menciptakan penggoda yang dalam hal ini adalah setan. Disisi lain, manusia mendambakan kebajikan dan kebahagiaan. Bagaimana mungkin kita mengetahui kebaikan kalau tidak ada kejahatan ? Bagaimana kita merasakan nikmatnya kejujuran dan ketulusan, kalau tidak pernah tahu atau mengalami pengkhianatan dan keculasan ? Jika demikian, harus ada yang tampil, bukan saja dalam bentuk buruk, tetapi juga mengantar orang lain menjadi buruk, dan itulah setan. Sungguh tepat ungkapan yang menyatakan : Manusia mengenal kebaikan, sejak ia mengenal setan. Bagi makhluk yang diuji manusia atau jin kebaikan bukan sekedar menjauhi keburukan atau ketidakmampuan melakukannya. Kebaikan dalam konteks ujian Allah adalah kemampuan melakukan yang baik dan yang buruk kemudian memilih untuk melakukan yang baik ditengah rayuan. Disanalah terletak keunggulan manusia atas malaikat, sehingga mereka diperintahkan sujud kepada Adam.

Kalau demikian, adanya setan penggoda merupakan keniscayaan yang diakibatkan oleh kehendak Allah menguji manusia. Karena itu pula manusia tidak dapat melihat setan atau jin paling tidak dalam bentuk aslinya. Bagaimana mungkin ia diperlihatkan kalau tujuan penciptaannya adalah ujian ? Apakah anda menduga ada yang akan mengikuti atau memperkenankan ajakannya jika diketahui bahwa yang diikuti dan yang mengajak adalah musuh yang akan menjerumuskan ? Pasti tidak akan ada. Kalau pun ada, maka ia tidak mengalami ujian.

Selanjutnya harus ditegaskan, bahwa keberadaan setan perayu dan penggoda adalah kehendak Allah jua. Bacalah Quran surah Al-An'am 122.

Sungguh menarik Taufik Al-Hakim yang berjudul "Asy-Syahid" (Sang Syahid). Sastrawan Mesir kontemporer ini menggambarkan peranan iblis dipentas kehidupan. Ia menggambarkan iblis berkunjung kepada pemuka-pemuka agama yang melaknat dan mengutuknya supaya mereka memberi saran agar taubatnya dapat diterima Allah. Semua pemuka agama tidak mengetahui bagaimana menghadapi permintaannya dan apa yang harus mereka lakukan. Jeremb jika diterima taubat iblis, apa jadinya dan bagaimana kesudahan kepercayaan tentang dosa warisan dan jalan keselamatan yang merupakan dampak dari dosa iblis. Begitu fakir pendeta kristen, Rabi Yahudi pun tidak berdaya, karena pada benaknya berkata: Bila taubat iblis diterima, dimana lagi tempat orang-orang Yahudi yang merupakan bangsa pilihan Tuhan, diantara bangsa-bangsa lain yang disesatkan iblis ? Imam besar Islam pun tidak berdaya, Karena kalau taubat iblis diterima Bagaimana jadinya perintah berta'awuz / memohon perlindungan Allah dan setan terkutuk ? Mendengar semua itu, iblis berteriak "Eksistensi saya diperlukan untuk wujudnya kebaikan; jiwa saya yang penuh kegelapan harus terus demikian agar dapat merefleksikan bahaya Ilahi". Ketika itu, tulis Taufik Al-Hakim , iblis menangis, maka berjatuhanlah meteor-meteor menimpa kepala hamba-hamba Tuhan. Malaikat Jibril melarangnya menangis. Iblis dengan putus asa turun ke bumi dan ketika itu keluarlah dari dadanya hembusan nafas yang selama ini tertahan, di ikuti gemanya secara serentak oleh bintang-bintang dan benda-benda langit memperdengarkan ucapan : "Sayalah sang syahid,... Sayalah sang syahid."

Abas Al-Aqqad dalam bukunya "Tarjumat Syaithan" (Biografi setan) memberikan ilustrasi lain lagi. Disana pakar Mesir kenamaan itu menunjukkan keniscayaan setan dalam kedurhakaan. Ilustrasi Al-Aqqad membuktikan, bahwa keinginan Iblis untuk bertaubat seperti dilukiskan Taufik Al-Hakim, walaupun seandainya dikabulkan Tuhan , tidak akan berhasil " Seorang setan pemula jenuh dengan kehidupan ala setan yang penuh dengan kedurhakaan. Ia tidak lagi berminat merayu dan menggoda manusia, setelah melihat sikap dan keadaan manusia yang taat dan yang durhaka hampir-hampir sama saja. Allah menerima taubatnya dan setan pemula itu dimasukkan Allah ke surga. Tetapi dasar setan ia kembali jenuh dengan aneka kenikmatan surgawi, tasbih dan tahmid, serta ibadahnya yang dilakukan disana. Dia mengharap dapat menuju kehadirat Tuhan karena dia tidak dapat melihat Kesempurnaan Tuhan tanpa menuntutnya. Dengan demikian, di surga pun ia durhaka dan membangkang . Akibat kedurhakaannya Allah mengubah tubuhnya menjadi batu. Disini sekali lagi dasar setan, dia menggoda manusia dengan keindahan yang terpancar melalui patung dan aneka seni".

Ilustrasi ulama yang berkecimpung dalam bidang riwayat, lain pula . Pakar hadist Badruddim Asy-Sybili dalam bukunya "Akaam Al-Marjaan" meriwayatkan kisah panjang pertemuan iblis dengan Nabi Nuh As. Akhir dikisahnya menjelaskan , bahwa iblis bertanya kepada Nabi Nuh As, apa yang harus ia lakukan agar taubatnya dapat diterima Allah ? Nabi Nuh As bertanya kepada Allah dan mendengar jawaban-jawabannya: Perintahkan ia sujud ke kuburan Adam ! Setelah Nabi Nuh menyampaikan jawaban itu , iblis menggelengkan kepala sambil berkata: "Sewaktu hidup Adam pun aku telah enggan sujud kepadanya, apalagi setelah kematiannya."

Walhasil kita dapat berkata ilustrasi ulama terdahulu atau sastrawan modern, kesemuanya berakhir pada kesimpulan bahwa kehadiran iblis dan setan merupakan suatu keniscayaan.

Keniscayaan itu dikehendaki Allah karena hanya dengan demikian manusia mengenal kebaikan. Atas kehendak-kehendaknya juga terjadi pertarungan antara penganjur kebaikan dibawah pimpinan oleh setan, karena hanya dengan demikianlah dapat diketahui kualitas manusia. Hal ini pada gilirannya musuh diharapkan dapat mengantar manusia menyadari musuh yang dapat mengantarnya kepada kebinasaan hidup di dunia dan di akherat.

Rabu, 30 November 2011

SIAPAKAH SYETAN,IBLIS DAN QARIN ITU ?

 Setan menurut bahasa Arab adalah ruuhun syariirun atau ruh yang sangat jahat/buruk, al-hayatul khabitsah atau suatu kehidupan yang sangat buruk dan mutamarridun madsadun atau pendurhaka yang merusak”. Sedangkan setan secara istilah adalah sifat yang jahat yang tersembunyi dalam diri jin dan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan dan kehancuran. Jadi syetan adalah profesi atau sebutan dari kalangan jin dan manusia yang jahat. Hal ini sesuai dengan definisi Allah mengenai syetan dalam Al Qur’an:

“syetan yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari (golongan jin dan manusia”
(QS. An-Naas: 5-6)

“ dan demikian kami jadikan bagi tiap – tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin. Sebagian lagi membisikkan kepada sebagian lagi perkataan – perkataan yang indah – indah untuk menipu manusia. Jikalau tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan,”
(QS Al-An’am: 112)

dia antara sifat syetan itu adalah sifat congkak, sesat dan cinta terhadap kejahatan. Jin yang bersiofat congkak dan cinta kejahatan disebut setan. Manmusia yang memiliki sifat tersebut disebut juga setan. Setan dari jenis manusia dan setan dari jenis jin yang ditetapkan Allah sebagai musuh para nabi itu menperdaya sebagian yang lain dengan kata-kata indah yang dibisikannya. Yang dimaksud dengan membisikkan disini adalah memindahkan pengaruh internal dari sebagian kepada sebagian yang lain, menipu dan mendorongnya untuk berbuat congkak, sesat dan maksiat kepada Allah Azza Wa Jalla.

Setan jenis manusia, sepak terjangnya dapat dilihat secara nyata dan jelas oleh mata telanjang kita, begitu pula bentuk permusuhan mereka terhadap nabi dan orang yang beriman itu. Sementara seyetan jenis jin bercampurbaur denjgan manusia untuk menjerumuskan dan menyesatkanya dengan cara – cara yang tidak diketahui manusia. Sebagaimana firman Allah di Al Qur’an:

“dan kami tetapkan bagi mereka teman – teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada dihadapan dan dibelakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi”
(QS Fusshilat: 25)

“ dan orang-orang kafir berkata, “ya Tuhan kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kami kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina”
(QS Fusshilat: 29)
QARIN

“barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Allah yang maha pemurah (Al Quran), kami adakan baginya setan, maka setan itulah menjadi teman (al Qarin) yang menyertainya”
(QS az-Zukhruf: 36)

rasulullah muhammad saw bersabda tentang al Qarin, “tidak satupun dari kamu yang tidak diwakilkan oleh Allah seorang qarin (peneman) baginya dari bangsa jin.” Para sahabat bertanya. “apakah qarin itu juga diperuntukkan bagimu wahai Rasulullah Muhammad SAW?” beliau menjawab, “juga bagi saya, akan tetapi Allah SWT telah menolongku terhadapnya, lalu ia masuk Islam, sedangkan ia tidak akan menyuruhku kecuali pada kebaikan.”
(HR muslim)

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “tidaklah ada seorang diantara kalian kecuali disertakan untuknya qarin dari jin dan qarin dari malaikat.”
(HR Muslim dan Ibnu Mas’ud)

sangat jelas bahwa Qarin itu merupakan salah satu suku bangsa jin yang disebut QARIN yang ditugaskan Allah untuk selalu mengikuti manusia dalam setiap aktivitasnya. Kemungkinan jin qarin masuk Islam oleh pengaruh manusia dijelaskan Dr. Al Asyqar berkata: bisa jadi seorang muslim manpu menpengaruhi jin pendampingnya kemudia dia masuk Islam”.

Tetapi Syeikh Wahid Abdus Salam Bali berkata: apa yang dikatakan oleh Dr. Al Asyqar perlu ditinjau, karena pernyataannya tersebut mengisyaratkan bahwa setiap muslim bisa menpengaruhi jin pendampingnya hingga masuk Islam, bahkan secara tegas beliau menyatakan hal ini. Padahal yang benar tidaklah demikian, karena pemberitahuan di dalam hadist tersebut lahiriahnya menunjukkan bahwa hal tersebut khusus bagi Nabi Muhammad SAW. Siapa yang menyatakan berlaku bagi umum maka ia harus mengemukakan dalil. Sepanjang yang saya ketahui tidak ada dalil yang mendukung pendapat itu.

Sahabat Umar bin Khattab yang dikenal kuat aqidahnya dan baik komitmen agamanya, ditakuti syetan (golongan jin) tetapi beliau tidak manpu mengislamkan jin pendampingnya. Selain itu seandainya seorang muslim selain Nabi Muhammad SAW manpu mengislamkan jin pendampingnya niscaya tidak ada lagi diadakannya ujian dan cobaan.

Seringkali kita mendengar kasus-kasus kesurupan dan menonton sinetron atau reality show bertema jin, dimana “makluh ghaib” yang merasuki tubuh manusia atau berada ditempat/rumah setelah dimediumisasi mengakui sebagai ruh Rasulullah Muhammad SAW, ruh personil walisanga, ruh bung karno, ruh raja-raja terdahulu dan ruh dari keluarga. Si “makluh ghaib” itu menyakinkan dengan manpu menyebutkan tempat suatu kejadian, peristiwa-peristiwa tertentu, silsilah/nasap keluarga dan sebagainya, hal ini membuat orang-orang disekitarnya menyakini bahwa yang merasuk memang ruh yang gentayangan.

Kalaupun ada kesamaan antara pengakuan si “makluh ghaib” dengan sejarah hidup seseorang yang telah meninggal, bukanlah merupakan bukti bahwa itu ruh orang tertentu yang bergentayangan. Itu adalah ulah jin qarin orang tersebut saat masih hidup. Si jin qarin ini berumur penjang dari orang itu yang memiliki data-data lengkap mengenai kehidupan orang itu. Tentunya dengan mudah menjabarkan sejarah hidup orang itu.
IBLIS

iblis menurut bahasa arab berasal dari kata ablasa – yublisu – ilbisan yang berarti putus asa, frustasi atau berdukacita. Iblis menurut Al Qur’an adalah salah satu dari golongan jin yang ingkar terhadap perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam as. Hal tersebut sebagaimana firman Allah:

“Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat,’sujudlah kamu kepada adam,’maka kecuali ilbisd. Dia adalah golongan jin, maka ia mendurhakai perintah tuhannya…” (QS. Al Khafi: 50)

Allah Swt berfirman:
”Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Nabi Adam as) diwaktu aku menyuruhmu?” iblis menjawab:”aku lebik baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS al A’raf: 12)

sangat jelaslah iblis itu bukan makluk baru ciptaan Allah SWT atau tafsiran beberapa ulama terdahulu Iblis itu merupakan malaikat yang membangkang Allah Azza Wa Jalla. Kedua ayat Al Qur’an diatas secara implisit dan tegas menyebutkan iblis berasal dari golongan jin yang tercipta dari api. Sedangkan makluk Allah yang tercipta dari api hanya bangsa jin bukan manusia yang tercipta dari tanah atau bangsa malaikat yang tercipta dari cahaya.

Selain itu ada beberapa dalil yang membuktikan bahwa sebelumnya Iblis bukan dari golongan malaikat melainkan golongan jin:
1. Iblis memiliki keturunan, sementara malaikat tidak memiliki keturunan.
2. malaikat terjaga dari segala dosa, sementara ilbis tidak terjaga dari dosa
3. Iblis tercipta dari api, sedangklan malaikat tercipta dari cahaya.
4. dalam Al Qur’an ditegaskan bahwa syetan adalah jin.
5. banyak riwayat dari rasulullah muhammad saw dan para sahabat yang sampai kepada kita yang menegaskan bahwa Iblis adalah jin.

Sumber :
blognyafitri.wordpress.com

Iblis Menurut Al-Qur'an dan Hadits

Al Qurthubi didalam tafsirnya tentang surat al Jin menyebutkan bahwa para ahli ilmu telah berbeda pendapat tentang asal usul dari jin. Al Hasan al Bashri mengatakan bahwa jin adalah anak dari iblis sedangkan manusia adalah anak dari Adam. Diantara mereka ada yang beriman dan ada yang kafir, mereka semua sama dalam hal pahala dan siksa. Barangsiapa diantara mereka yang beriman maka dia adalah wali Allah dan barangsiapa dari mereka yang kafir maka ia adalah setan.

Ibnu Abbas berkata,”Jin adalah anak dari jaan dan mereka bukanlah setan. Mereka (jin) juga mati, diantara mereka ada yang beriman dan ada yang kafir. Sedangkan setan adalah anak-anak iblis yang tidak mati kecuali bersama iblis.

Didalam tafsir surat an Nas, Qatadah mengatakan bahwa dari kalangan jin terdapat setan-setan dan dari kalangan manusia juga terdapat setan-setan, pendapat ini menguatkan pendapat al Hasan al Bashri diatas, firman Allah swt :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ

Artinya : “dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin.” (QS. Al An’am : 112)

Didalam kitab “Hayah al Hayawan al Kubro” karya ad Damiriy tentang jin bahwa yang masyhur adalah bahwa jin merupakan keturunan dari iblis. Ada yang mengatakan bahwa jin adalah satu jenis dan iblis adalah satu dari mereka, tidak diragukan lagi bahwa jin adalah keturunannya seperti yang dimaksud dengan firman Allah swt :

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

Artinya : “Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (QS. Al Kahfi : 50). Dan siapa yang kafir dari kalangan jin maka disebut dengan setan.

Didalam kitab “Akaam al Marjaan fii Ahkaam al Jaan” karya seorang pakar hadits asy Syubliy disebutkan bahwa jin mencakup malaikat dan juga yang lainnya yang tersembunyi dari penglihatan, sebagaimana firman Allah swt :

Artinya : “Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin.” (QS. Ash Shaffat : 158), karena orang-orang musyrik menganggap bahwa malaikat adalah anak-anak Allah.
Dia mengatakan bahwa setan adalah jin yang berbuat maksiat dan mereka adalah anak-anak iblis.. al Jauhariy mengatakan bahwa setiap pembangkang dari kalangan jin, manusia dan binatang disebut dengan setan. Orang-orang Arab menamakan ular dengan setan. (fatawa al Azhar juz X hal 146)

Adapun tentang penciptaan jin maka disebutkan didalam firman-Nya :
Artinya : “dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al Hijr : 27)
Juga didalam firman-Nya yang lain :

وَالْجَآنَّ خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ السَّمُومِ

Artinya : “Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar Rahman : 15)
Al Iroqi mengatakan dari Ibnu Abbas : مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ adalah dari nyala api, yang paling baik darinya.
Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu Abbas مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ adalah dari api murni, demikian pula pendapat Ikrimah, Mujahid, adh Dhahak dan yang lainnya.
Diriwayatkan Oleh Imam Muslim dan Ahmad dari Aisyah berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.”

Wallahu A’lam